25/06/13

METODE PENGAJARAN BIPA

A. METODE LANGSUNG (DIRECT METHOD)

1. Latar Belakang

a. Metode ini dikembangkan oleh Berlitz dan Jespersen abad ke-19.
b. Bahasa dipelajari melalui asosiasi langsung antara kata dan frasa dengan benda dan aksi (gerak-gerik) tanpa intervensi bahasa ibu.
c. Pembelajar belajar memahami suatu bahasa melalui kegiatan menyimak bahasa tersebut sesering mungkin.
d. Pembelajar belajar berbicara melalui kegiatan berbicara.

2. Karakteristik Umum


a. Pembelajaran bahasa harus bermula dari pengenalan benda-benda dan perilaku yang ada di dalam kelas.
b. Para pembelajar belajar bagaimana berkomunikasi dalam bahasa sasaran.
c. Metode langsung memanfaatkan berbagai gambar untuk menghindari penggunaan terjemahan.
d. Penjelasan mengenai kosakata baru dilakukan melalui parafrase dalam bahasa sasaran, gerak-gerik bahasa tubuh, menunjuk benda yang dimaksud.
e. Aturan kebahasaan tidak diajarkan secara eksplisit, tetapi dipelajari para pembelajar melalui latihan. Mereka didorong untuk membuat generalisasi tentang tata bahasa melalui metode induktif.
f. Pemahaman bacaan diperoleh tanpa menggunakan kamus atau terjemahan.

B. METODE TERJEMAHAN TATA BAHASA (GRAMMAR TRANSLATION
METHOD)

 
1. Latar Belakang

a. Metode ini berkembang pada akhir abad ke-19, awal abad ke-20.
b. Pandangannya terhadap pengajaran bahasa sama dengan pandangan ahli psikologi, yaitu disiplin mental sangat penting untuk memperkuat daya berpikir.
c. Tujuan utamanya adalah memungkinkan para pembelajar untuk „mengeksplorasi kedalaman bahan bacaan‟; membantu para pembelajar lebih memahami bahasa ibu mereka melalui analisis tata bahasa dan terjemahan bahasa sasaran.

2. Karakteristik Umum

a. Pembelajar mempelajari aturan-aturan kebahasaan dan kosakata yang berkaitan dengan bacaan.
b. „Resep‟ terjemahan diberikan saat pembelajar mempelajari aturan-aturan kebahasaan dan kosakata.
c. Pemahaman terhadap aturan-aturan kebahasaan dan isi bacaan dites melalui terjemahan (bahasa sasaran ke bahasa ibu atau sebaliknya).
d. Bahasa ibu dan bahasa sasaran dibandingkan secara konstan; tujuan pengajaran adalah mengubah B1 menjadi B2 atau sebaliknya.
e. Kesempatan untuk berlatih menyimak dan berbicara sangat sedikit.

C METODE AUDIO-LINGUAL

1. Latar Belakang

a. Metode ini berkembang tahun 1940-an dan 1950-an.
b. Metode Audio-Lingual merupakan hasil perkawinan linguistik struktural dan psikologi behavioris yang memandang proses pembelajaran dari sudut conditioning.
c. Bahasa merupakan fenomena lisan. Bahasa tulis merupakan representasi ujaran.
d. Linguistik melibatkan kajian tentang pengulangan pola-pola bahasa.
e. Kajian utama linguistik adalah fonologi dan morfologi.
f. Bahasa diperoleh melalui pembelajaran pola-pola kebahasaan yang berulang-ulang.
g. Bahasa ibu dipelajari secara lisan. Oleh karena itu, bahasa kedua harus dipelajari sesuai dengan „urutan alami‟: menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

2. Karakteristik Umum

a. Tujuan pengajaran bahasa kedua adalah mengembangkan kemampuan pembelajar dalam menggunakan bahasa kedua (pembelajar mampu berbahasa seperti penutur asli).
b. Bahasa ibu tidak boleh digunakan di dalam kelas. B2 diajarkan tanpa merujuk pada B1.
c. Pembelajar mempelajari bahasa melalui teknik stimulus-respons (S-R). Ia belajar berbicara tanpa memperhatikan bagaimana bahasa itu dipadukan. Ia tidak diberi kesempatan untuk memikirkan jawaban. Memorisasi dialog dan latihan pola-pola kebahasaan merupakan alat pengkondisian proses pembelajaran.
d. Latihan pola-pola kebahasaan dilakukan pada awal proses belajar mengajar. Latihan dilakukan sebelum menjelaskan pola-pola kebahasaan. Diskusi tentang kebahasaan dilaksanakan sesingkat mungkin.
e. Pengembangan keempat aspek kemampuan berbahasa secara alami (menyimak, berbicara, membaca, menulis) harus diperhatikan.

D. METODE PEMBELAJARAN BAHASA BERBASIS KOMUNITAS
(COMMUNITY LANGUAGE LEARNING METHOD)

1. Latar Belakang

a. Metode ini dikembangkan oleh Charkes Curran (1976)
b. Metode ini memberikan tekanan pada peran ranah afektif dalam pembelajaran kognitif.
c. Sebagai individu, pembelajar perlu mendapat perhatian dan bimbingan agar dapat mengisi nilai-nilai dan mencapai tujuan.

2. Karakteristik Umum

a. Dalam menjalankan perannya sebagai pembimbing (konselor), pengajar bersikap pasif.
b. Pengajar membantu para pembelajar berekspresi secara bebas (mengatakan apa yang ingin mereka katakana).
c. Para pembelajar belajar secara berkelompok. Mereka duduk di tempat duduk yang membentuk lingkaran. Pengajar berada di luar lingkaran, siap memberi-kan bantuan. Belajar kelompok dapat mengurangi rasa takut dan dapat merangsang para pembelajar untuk mengekspresikan ide-ide dan perasaan-perasaan mereka.

E, METODE RESPONS FISIK TOTAL (TOTAL PHYSICAL RESPONSE
METHOD)


1. Latar Belakang

a. Menyimak memegang peranan penting dalam kegiatan berbahasa.
b. Kemampuan menyimak harus dikembangkan semaksimal mungkin.
c. Keterampilan menyimak harus dapat diasimilasi jika pengajar mampu
merangsang sistem sensori-kinestetis.
d. Pengajaran bahasa harus mampu mengurangi ketegangan.
e. Pemahaman bahasa lisan harus dikembangkan dalam keterampilan berbicara.

2. Karakteristik Umum

a. Pemahaman tampak dari gerakan tubuh pembelajar.
b. Pembelajar tidak harus dipaksa berbicara sebelum siap berbicara.
c. Pengajar berperan sebagai pengarah semua tingkah laku pembelajar.

F. METODE HENING (SILENT WAY METHOD)
1. Latar Belakang

a. Metode ini dikembangkan oleh Gattegno (1976).
b. Ahli psikologi kognitif dan ahli tata bahasa transformasi generatif berpendapat bahwa pembelajaran bahasa tidak dilakukan melalui proses peniruan (mimicry) karena para pembelajar dapat menuturkan ujaran yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya. Oleh karena itu, mereka tidak bisa memelajari bahasa hanya dengan mengulang ujaran yang mereka dengar.
c. Bahasa tidak dipandang sebagai hasil pembentukan kebiasaan (habit formation), tetapi pembentukan aturan (rule formation).
d. Ada tiga kata kunci yang berperan penting dalam proses pembelajaran, yaitu: kemandirian, otonomi, dan tanggung jawab.
e. Para pembelajar mampu belajar dengan memanfaatkan sumber-sumber yang ada dalam diri mereka (struktur kognitif, pengalaman, emosi, wawasan atau latar belakang pengetahuan).
f. Para pembelajar harus bertanggung jawab atas apa yang mereka pelajari.
g. Pengajar berperan sebagai pembimbing para pembelajar dalam proses „pengujian hipotesis‟.

2. Karakteristik Umum

STEVICK (1980)a. Pengajaran harus menjadi unsur bawahan (subordinate) dari pembelajaran.
b. Pembelajaran tidak hanya sekedar proses peniruan atau pelatihan.
c. Pengajar berupaya untuk tidak mengintervensi aktivitas pembelajar.
d. Dalam proses pembelajaran, para pembelajar membekali diri dengan bekerja mandiri, melakukan kegiatan mencoba-coba, menunda keputusan, dan merevisi kesimpulan.
e. Ketika bekerja, para pembelajar berusaha menghubungkan berbagai pengalaman yang mereka peroleh selama belajar bahasa pertama.

KARAMBELAS (1971)a. Pengulangan atau peniruan ujaran pengajar sebaiknya dihindari.
b. Para pembelajar hanya diberi kesempatan menyimak satu kali.
c. Bahan pembelajaran tidak pernah ditujukan pada aspek memorisasi. Pembelajar mengenal kosakata atau struktur bahasa yang baru melalui latihan.
d. Pengajar jarang memberikan koreksi karena menganggap para pembelajar mampu mengoreksi kesalahan mereka sendiri.
e. Kegiatan berbicara dilakukan setelah terlebih dahulu melakukan latihan menulis.
f. Bila perlu, para pembelajar bertanggung jawab terhadap proses pembelajaran mereka

G. METODE SUGESTOPEDIA (SUGGESTOPEDIA METHOD)
1. Latar Belakang

a. Metode ini dikembangkan oleh Georgi Lozanov (1978).
b. Metode yang dikembangkan oleh seorang ahli fisika dan psikoterapi di Bulgaria ini meyakini bahwa teknik relaksasi dan konsentrasi dapat membantu para pembelajar mengelola sumber-sumber bawah sadar mereka dan menyimpan sejumlah kosakata dan aturan kebahasaan yang pernah diajarkan kepada mereka.
c. Para pembelajar tidak menggunakan kekuatan mental secara penuh (hanya
5% - 10%)

2. Karakteristik Umum

Atmosfer yang sugestif, seperti lampu yang redup, alunan musik yang terdengar sayup-sayup, dekorasi ruangan yang menarik, tempat duduk yang menyenangkan, berperan penting dalam metode sugestopedia.

H. PENDEKATAN KOMUNIKATIF (COMMUNICATIVE APPROACH)
1. Latar Belakang

a. Bahasa berperan sebagai alat komunikasi.
b. Para pembelajar tidak hanya harus menguasai aturan-aturan kebahasaan (usage), tetapi juga harus mampu menggunakannya dalam kegiatan komunikasi (use).

2. Karakteristik Umum

a. Penggunaan bahasa dikaitkan dengan konteks sosial.
b. Para pembelajar berinteraksi secara lisan dan tulisan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar